IPK 4, Anak Tukang Becak Raih Gelar Doktor Di ITS

Sabtu, 14 Sep 2019 | 21.55 WIB

IPK 4, Anak Tukang Becak Raih Gelar Doktor Di ITS

Lailatul Qomariyah. (Windhi/centroone)



Centroone.com - Latar belakang ekonomi keluarga tentu tak menjadi halangan untuk berprestasi di bidang pendidikan. Jika memang cerdas, walau dari keluarga sederhana, pendidikan tinggi pun bisa dicapai. 

Masalah ekonomi keluarga ini tentu tak lantas menyurutkan semangat Lailatul Qomariyah untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Bahkan dia semakin semangat untuk meraih gelar doktornya dan akan mengikuti prosesi wisuda di ITS pada Minggu (15/9/2019).

Meski kondisi yang ada mengharuskan gadis berusia 27 tahun asal Pamekasan, Madura ini berjuang mencari uang sendiri agar bisa melanjutkan kuliah dan menghidupinya. Hasil jerih payahnya membuahkan berkah hingga berhasil meraih gelar doktor dari Departemen Teknik Kimia ITS.

Di sela-sela studinya, gadis yang biasa disapa Laila ini juga mencari tambahan penghasilan melalui profesi guru les privat. Meskipun dia telah memperoleh beasiswa untuk membantu biaya kuliahnya. Berhubung alat transportasi yang dimiliki Laila hanya berupa sepeda ontel, dia pun hanya mengajar murid tingkat SMP dan SMA di sekitar wilayah kampus ITS.

Anak sulung dari pasangan Saningrat (43) dan Rusmiati (40) ini mengaku bahwa dirinya ingin mengubah nasib keluarganya. Meski pendapatan Saningrat sebagai pengayuh becak dan Rusmiati sebagai buruh tani yang tergolong di bawah rata-rata, tidak cukup untuk membiayai sekolah Laila. Nyatanya, alumnus S-1 Teknik Kimia ITS ini tetap sanggup menyelesaikan studi doktoral (S-3) tanpa bergantung kepada kedua orang tuanya.

Laila merupakan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang masuk ITS melalui jalur prestasi. Selanjutnya dia meneruskan pendidikannya dengan beasiswa dari program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Yakni beasiswa program percepatan pendidikan yang diberikan kepada lulusan sarjana yang memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang Doktor dengan masa pendidikan selama empat tahun.

Dalam memberikan les privat, mata pelajaran yang diajarkan Laila kepada muridnya pun variatif. Berkat wawasan akademiknya yang luas, perempuan yang juga mengambil Magister di ITS ini sanggup mengajar matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris dan pelajaran umum lainnya. Tercatat sejak awal menginjak bangku kuliah di program sarjana, Laila telah melakoni rutinitas ini demi tercukupinya kebutuhan sehari-hari gadis ini.

Gadis kelahiran 16 Agustus 1992 ini mengikuti prinsip yang diajarkan dalam kitab Al-Qur'an. “Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum tanpa usaha dari kaum tersebut,” tuturnya mengutip isi salah satu ayat di Al-Qur'an.

Selain itu, orang tua dan guru sekolah Laila juga rutin memberikan pesan bahwa pendidikan dan pekerjaan yang dijalaninya harus jauh lebih tinggi dibanding yang didapatkan kedua orang tuanya.

Buah kerja keras yang dilakoni Laila tidak dapat dipandang sebelah mata. Tercatat melalui topik disertasinya, dia berhasil menyelesaikan program doktoral dengan IPK 4.0. Sebuah prestasi tersendiri bagi mahasiswi yang rutin meneliti ini. Di samping itu, agar seluruh aktivitasnya yang padat dapat terlakoni semua, dia harus tahan tidur hanya empat jam dalam sehari.

Laila mengaku bahwa dirinya sangat ingin untuk terus berkontribusi bagi ITS selepas kelulusannya. Dirinya merasa berat meninggalkan ITS, dosen-dosen dan karyawannya yang telah membantu Laila mewujudkan impian. Tidak sedikit pula dosen yang meminta kepada Laila agar tetap bertahan melanjutkan penelitian atau mengajar di ITS.

“Aku sudah menemukan semacam chemistry (kecocokan, red) di ITS, jadi meskipun banyak tawaran dari luar, saya tetap sangat ingin melanjutkan pengabdian saya di kampus perjuangan ini,” ujar Laila penuh antusias membicarakan peluangnya untuk bekerja di ITS. (windhi/by)